Sunday, September 05, 2004

Akhirnya sampai juga....

Akhirnya sampai juga aku pada kondisi tubuh yang sudah memerlukan perhatian cukup. Dimana sebelumnya aku seenaknya saja menjalani hidup ini (khususnya dalam bidang kesehatan fisik), makan apa saja, minum apa saja, olahraga seperlunya/lebih tepat sepengennya. Meskipun, sebenarnya aku lumayan mikir pada saat milih makanan misalnya, tapi kadang2 memang kurang bisa menahan nafsu.

Ternyata memang ada manfaatnya juga kita melakukan general check up, yang selama ini selalu saja istriku dan juga ibuku cerewet kepadaku untuk segera melakukannya. Dengan melihat perilaku selama ini, alhamdlillah hasilnya baik, jantung-baik (sempet didiagnosa oleh ahli pengobatan alternatif kurang baik), paru2-baik, asam urat-baik, gula darah-baik (yang selama ini aku selalu khawatirkan), yang jelek (dan cocok kalau melihat postur tubuh) adalah cholesterol, memang beberapa minggu terakhir ini aku makan rada 'brutal'. Diawali dengan makan siang cincang-padang yang fully lemak, setelah itu setiap minggu pp Bdg-Jkt, makan sate maranggi hampir 20 tusuk, tumpengan 17 Agustusan (telor abis 5 dalam 2 hari), semenjak itu aku mulai sering nggak enak badan.

Olahraga...., hal ini sebenarnya penyebab utamanya, karena dalam minggu2 ini aku sangat kurang berolahraga.
Tapi yang paling penting adalah, bahwa ini menjadi suatu peringatan, bahwa dalam hidup ini setiap saat kita harus siap dipanggil yang maha kuasa, kadang2 kita teledor, dan setiap saat kita harus introspeksi, sehingga bisa meningkatkan perhatian kita terhadap kualitas hidup ini.

Dan islam sudah sangat baik dalam menjaga kita untuk selalu introspeksi dan mengingat Allah, 40 raka'at shalat sehari (2+4+4+3+4=17 wajib, 2+(2+2)+0+2+2=10 rhawatib, 2 dhuha, 11 tahajud), dan menurut saya inilah makna arba'in sebenarnya.
Sampai saat ini pun saya paling melaksanakan 17+10 = 17, itu pun kadang2 masih cukup banyak bolong rhawatibnya.

Dan hal ini pasti dapat mengurangi-bahkan menhilangkan kegelisahan hati yang selama ini sering kali muncul, dan juga menambah semangat kerja seharusnya.
Karena ditengah rusaknya moral bangsa, kemana lagi kita akan mengadu, dan meminta petunjuk?

Semoga Allah selalu memberi jalan......

Tuesday, June 01, 2004

64 tahun Ibuku berbakti.....

Mau nggak mau, saat ini kita terbawa ke perhitungan tahun masehi dalam menghitung umur.

Hari ini Ibuku genap berusia 64 tahun, masih berfikiran cerdas, ceplas-ceplos apa adanya, yang kadang-kadang membuatku khawatir. Berani, selalu mengikuti kemajuan dan berita terkini baik politik maupun gosip-gosip artis.

Sangat beruntung sekali, sampai hari ini Ibuku masih sehat wal'afiat dan tinggal bersama keluargaku. Sehat, meskipun dengan mata kaki yang sudah kaku akibat terjatuh sesaat setelah mengambil wudhlu, sehingga harus dibantu tongkat apabila berjalan.

Beruntung juga, istriku sangat mulia, dengan menerima dan malah sangat merasa terbantu karena dia juga bekerja, sehingga ada yang ikut mengawasi anak-anak katanya. Sesuatu pemikiran yang sangat asing bagi ibu-ibu masa kini yang serumah dengan mertua, dan hal ini juga mendapat pengakuan dari teman-yeman sejawat di kantornya, mudah-mudahan dia berkata jujur tentang hal ini.

Alhamdulillah, seiring berjalannya waktu, aku semakin belajar dan berkaca melalui kehadiran ibuku di rumah, menerawang ke masa datang apabila aku diberi panjang usia.

Seperti apakah masa tuaku nanti, siapakah saudara atau teman dekat yang ada disekitarku, istri seperti apa yang bisa menemani sampai hari tua, apakah anak-anakku juga akan menerima seperti halnya keluargaku menerima Ibuku.

Sangat menyesal, atau inikah perjalan hidup yang harus aku jalani, bahwa sebelumnya aku sering merasa benar dengan berkata-kata yang menyakitkan ibuku.

Atau tanpa sadar, sampai saat ini mungkin aku masih seperti itu, memberi komentar/kritik tentang kesukaan ibuku -dan juga istriku- menonton acara-acara gosip, kriminal, juga acara-acara hiburan dengan artis-artis yang berpakaian minim, ohhhh..., kadang aku masih merasa benar....